Oleh Khasna Khoirul Lisa
“Orang-orang bilang imajinasi hanyalah khayalan, tapi bagaimana jika khayalan itu mulai menjawab balik?”
Aku bukanlah anak asli dari desa sekarang. Dulunya, kami tinggal di atap rumah uti. Ramai-ramai bersama kakung, uti, om, tante, beserta kedua anaknya. Rumah uti panjang, apabila dibagi, bisa menjadi 3 bagian. Bagian depan untuk keluarga Om, bagian tengah untuk keluargaku, sedangkan bagian belakang untuk Kakung dan Uti.
Aku tinggal di rumah Uti hanya sampai umur 6 tahun. Setelah itu, kedua orang tuaku berpindah karena telah mewujudkan keinginan untuk memiliki atap rumah sendiri. Di rumah ini, ada abah, ibu, mas, dan aku. Ya, aku memang memanggil seorang bapak dengan sebutan “abah”. Ingat, kala itu waktu pemindahan perabotan rumah dari rumah uti ke rumah baru diangkut menggunakan truk. Aku mengikutinya dengan menaiki motor yang dikendarai oleh kakung. Anak kecil berumur 6 tahun dengan kesenangannya menaiki jok motor paling depan setelah pengendara. Melihat langsung, ada banyak barang yang diangkut dengan suasana sejuk khas malam.
Indra manusia kala itu belum sepenuhnya terasa, samar-samar untuk melihat dunia di masa itu. Anak kecil dengan rambut sekuping keluar dari kamar mandi, ditunggu saudara yang memegang celana, lalu dipakaikan. Suara tak begitu ramai untuk memenuhi rumah baru kami. Alunan doa-doa yang dipimpin kakung merupakan wujud syukur atas rida Allah terhadap rumah kami.
Aku rasa setelah bubaran saudara-saudara ini akan merasa cemas. Yap! Benar saja. Hitung saja kira-kira baru 3 hari tinggal di rumah baru, desa baru, dan suasana baru. Hitungan itu sangatlah pendek untuk adaptasi. Sore hari, perempuan kecil ini diajak berinteraksi oleh abah ke rumah tetangga. Aku berada di antara dua perempuan dewasa. Canggung, takut, ingin menangis, itu yang ada di dalam diriku. Mbak Dila dengan pawakan lembut, pelan ketika berbicara, belum berani bertindak lebih untuk bergurau. Ketika aku merasakan di samping Mbak Dila tidak begitu menakutkan untuk usianya. Sedangkan Mbak Dayah dengan pawakan aktif, saat berbicara nadanya sedikit judes, terkadang memperlihatkan matanya yang lebar kepadaku. Saat aku di tengah-tengah itu, yang paling lengket ke sisi Mbak Dila. Anak sekecil itu tak bisa berbohong ketika merasa takut. Teringat mukaku yang cemas dan pengen cepat-cepat pulang ke rumah. Oh iya, aku teringat membawa uang koin seribu rupiah yang aku genggam erat-erat di kananku. Ternyata, genggaman ku terlihat oleh Mbak Dayah. Ia memandang terus genggaman tanganku. Mbak Dayah “kepo” dengan isi genggaman tanganku. Memintaku untuk membuka, tetapi aku menolak. Mbak Dayah sedikit memberontak. Takut pastinya ada dan masih beranggapan bahwa yang dilakukan Mbak Dayah adalah “memberontak”. Mbak Dayah memaksa ku untuk membuka genggaman. Ia terus berusaha agar aku membukanya. Hingga pada akhirnya karena ketakutan tersebut, aku memberanikan diri untuk membuka genggaman tanganku. Uang koin seribu rupiah akhirnya didapat Mbak Dayah. ” Takpek ya duitmu,” ucap Mbak Dayah yang dalam bahasa Indonesia berarti “Aku ambil ya uang kamu”. Aku pun pasrah dengan jawaban anggukan kepala tanpa berbicara.
Cuitan pengalaman pertama kali di lingkungan baru dengan tetangga itu bukanlah faktor yang membuatku tidak nyaman, melainkan ada sebab lain. Anak kecil dengan berbagai imajinasi yang memenuhi kepala. Rasa takut berlebih terhadap hal-hal yang berbau mistis tentunya ada. Sebenarnya, topik mistis itu menyenangkan untuk dibahas ketika ada banyak orang. Rasa takut hanya terasa sedikit; sisanya tenang. Namun, setelah bubaran barulah terdoktrin hal-hal mistis. Usiaku 7 tahun, kelas 1 tepatnya. Aku duduk di bangku MI (Madrasah Ibtidaiyah). Zaman ini, aku dan teman-teman berbicara mengenai imajinasinya masing-masing. Hantu merupakan topik sehari-hari. Bertukar ceritalah kami dengan sesama. Dina bercerita bahwa ia melihat penampakan hanya kepala di sungai. Kebetulan rumah Dina berada dekat sungai. “Pas iku aku kan lagi melu ibuku meh ngumbah klambi ing kali, nah pas tekan, gek ndhelok banyu ki tiba-tiba ana kayak sirah sing ngambang”, ujar Dina. (“Waktu itu aku lagi ikut ibuku mau nyuci baju di sungai, nah waktu sampai di sungai, aku lihat di airnya tiba-tiba kayak ada kepala yang nggak, Mbak,” ujar Dina). Semua yang berada di lingkaran pembicaraan tersebut merasa merinding, begitu pun dengan aku.
Terbayang-bayang tak henti hanya ketika selesai bel pulang sekolah tiba. Cerita Dina teringat hingga ke rumah.
“Buk, kancani aku ing kamar mandi,” mohon perempuan kecil kepada ibu. “Buk, Buk, Buk, enteni,” ujar lagi perempuan kecil dengan nada gelisah. Ketika ibu tidak merespons, takutnya luar biasa. Di dalam kamar mandi, segala hal dipercepat ketika merasa gelisah. Hiraukan apa itu terpleset?
Ilham, masku tersayang. Kami lahir hanya beda 3 bulan. Tak begitu jelas kebersamaan kami kala itu. Aku dengan Mas beda 1 tingkat dalam pendidikan. Usia kami 6 tahun untuk masuk TK. Teringat dahulu kami diantar ke TK oleh abah dengan kedua tangan abah yang kami gandeng. Jadi, barisannya adalah kanan aku, tengah abah, sedangkan kiri mas. Kebahagiaan ini tak bisa diukur dengan apa pun.
Tak jauh beda denganku, Mas, ternyata juga terdoktrin tentang hal-hal mistis. Memang baru terasa benar-benar takut ketika duduk di bangku MI. Kami sering bergantian dalam hal menemani. Ambil nasi? Ya!, pipis? Ya! Sekadar cuci tangan? Ya!. Haha… Rasa gelisah terus menghantui. Berasa ada sesuatu yang lain di samping kami, bahkan mengikuti.
Sekecil itu tak ada pikiran bahwa rumah ini akan menjadikan kami setakut ini. Dua tahun berlalu, aku di bangku kelas 3 sedangkan Mas kelas 4. Di umur-umur inilah banyak kejadian yang aku dan Mas Ilham alami. Sore hari sehabis hujan lebat, “Mas, Dhik, Ibu pengin makan lontong campur di warung pojok desa sana,” ucap Ibu kepada kami. Oke, kami berangkat dengan menaiki sepeda berbonceng berdua. Mas yang mengendarai, aku perempuan kecil, cukup bonceng saja. Sepeda lipat berwarna hijau dan putih dengan ukuran sedang kami naiki. Sepanjang jalan penuh dengan bekas hujan. Mas mengendarai sepeda dengan penuh kehati-hatian. Sampailah kami di warung pojok desa. Warung ini langganan keluarga.
Ibu penjual lontong campur merupakan ibu dari teman Mas. Kami sekeluarga sudah kenal dengan beliau. Sore itu, antrean di warung lontong campur sangat ramai. Kami berada di nomor urut terakhir dari 6 antrean. Warung sederhana di tengah-tengah antara tiga jalur jalanan. Tampilan sederhana, rasa luar biasa. Aku dan Mas menunggu antrean dengan duduk santai dan berobrolan kecil dengan ibu warung. “Iki toh mas Ilham, kancane Andi,” ucap singkat ibu warung ke mas Ilham. “Hehe… inggih bu”, jawab mas Ilham.
Di sinilah pengalaman mistis kami terjadi. Awan sore yang awalnya masih sedikit cerah, lama-kelamaan gelap. Aku dan Mas duduk terdiam di kursi. “Dhuh Nang, kecape Ibu telas ki, nyuwun tulung pundutake kecap ing griyane Ibu, lewat wingking niki ya,” ujar Ibu warung ke kami.
“Oh inggih Bu, lewat mriki ya griyane,” jawab Mas Ilham. Sebenarnya waktu itu aku merasa kurang yakin kepada Mas, sebab dia tidak tahu jalan menuju rumah Ibu Warung. Sepanjang jalan aku tidak pernah melepas tangan dari badan Mas. Aku terus berada di belakang. Perempuan kecil ini sangat takut dengan kegelapan. “Mas, iki bener gak dalane? Aku wedi,” ujar perempuan kecil yang sedang ketakutan. Tidak ada jawaban dari Mas. Ia hanya terus berjalan. Nah, di sini, kami sempat berhenti sebentar untuk melihat sekitar. Dan yap! Aku melihat sesuatu di antara pohon pisang. “Mas, weruh iku gak? Kok kaya bulet-bulet ngono karo jongkok… iku ing wit gedang,” ucap perempuan kecil disertai suara meringkih ketakutan. Mas hanya menjawab singkat, “Ogak ah”. Setelah aku melapor, kami pun bergegas balik ke warung. Haha… sebenarnya Mas juga takut, cuma gengsi aja mau bilang.
Setibanya kami di warung, kata yang utama kami ucapkan kepada ibu warung adalah “Maaf…”. Aku dan Mas tidak mengetahui yang mana rumahnya, disertai ketakutan tadi. Deg, deg, deg … aku rasakan sepanjang jalan. Akhirnya yang mengambil kecap adalah ibu warung sendiri. Ibu warung berpesan “Inggih mpun, kalian wae sing nunggu ing mriki sik ya”. Kami pun menunggu sekaligus menjaga warung Ibu.
Adzan maghrib berkumandang. Aku dan Mas bergegas pulang ketika antrean selesai. Uhhh… dingin sekali udara saat ini.
Ibu menunggu di depan rumah, ya, menunggu kami pulang. Kala itu hanya ada Ibu, Mas, dan aku. Abah? Bekerja di Semarang. Kami bertiga salat terlebih dahulu sebelum menyantap lontong campur ditambah gorengan hangat. Beuhhh nikmatnya…
“Buk, aku mau weruh kaya ana wong jongkok tur sirahe gundhul ing wit gedang pas ibue mas Andi ngongkon mundutake kecap ing griyane”, ucap perempuan kecil di tengah-tengah makan. Ck! Ya, itu respons ibu setelah mendengarkan ceritaku. Ibu seperti tidak percaya. “Mas Ilham weruh juga ga?” tanya Ibu. “Mboten,” jawab Mas Ilham sambil menggeleng-geleng kepala.
Suasana dunia kala itu sangat-sangat bahagia, tanpa memikirkan rumitnya dunia sekarang. Tertawa lepas tanpa adanya beban pikiran. Bergerak ke sana ke mari dengan tenaga gigih. “Masih polos,” sebutannya. Bermain-mainlah aku dan Mas di ruang tengah. Beranjak dari kasur ke lantai, begitu terus tidak ada capeknya. Berlarian hingga kejar-kejaran. “Mas, Dhik, yuk jamaah Salat Magrib bareng-bareng,” tutur Ibu kepadaku dan Mas. Bergegaslah aku dan Mas ke belakang untuk mengambil air wudu secara bergantian. Teringat alat untuk berwudu di rumah kami adalah “Pong”, ya, memang ini sebutannya. Bekas tempat cat tembok yang dilubangi di salah satu sisinya sehingga air dapat mengalir dan nantinya dapat kami gunakan untuk berwudu.
Siap sudah kami menggunakan pakaian salat. Abah sebagai imam. Ibu, Mas, dan aku sebagai makmum. Kebetulan “Pasolatan” kami berada di dekat pintu dapur. Perempuan kecil ini mendapat barisan tepat di pintu yang hendak ke dapur. Rakaat 2 telah kami laksanakan. Di tengah-tengah waktu salat, ketika bagian rukuk, aku mendapati kejadian aneh. “Mereka” menggunakan seperti pakaian jubah berwarna putih, mondar-mandir.(*)