Oleh Wahyu Ningsih
Perkenalkan, aku Wahyu. Aku tinggal di pinggir Kota Semarang, tepatnya di daerah Genuk. Wilayah ini cukup dikenal oleh masyarakat luas karena kondisi lingkungannya yang sering dilanda banjir. Bahkan, tidak jarang ketika hujan turun dengan intensitas ringan sekalipun, beberapa titik di daerah Genuk sudah mulai tergenang air. Hal tersebut menjadi gambaran umum yang melekat pada daerah tempat tinggallku.
Namun demikian, aku sangat bersyukur karena lingkungan tempat tinggallku termasuk wilayah yang jarang sekali terkena banjir. Hal ini tidak terlepas dari adanya perbaikan infrastruktur yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Jalanan yang dahulu sering tergenang air kini telah diperbaiki dan ditinggikan, sehingga aliran air menjadi lebih lancar dan tidak mudah menggenang seperti sebelumnya.
Perubahan tersebut memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat di sekitarku. Aktivitas sehari-hari kini dapat berjalan dengan lebih nyaman tanpa rasa khawatir akan banjir yang datang secara tiba-tiba. Selain itu, kondisi lingkungan juga menjadi lebih bersih dan tertata, sehingga menambah kenyamanan bagi para warga yang tinggal di dalamnya.
Meskipun desaku tidak memiliki tradisi besar yang terkenal seperti daerah lain, kehidupan masyarakat di sini tetap memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut terletak pada kebiasaan dan kegiatan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan-kegiatan inilah yang menjadi ciri khas sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan adalah kerja bakti. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan untuk menjaga kebersihan lingkungan maupun memperbaiki fasilitas umum yang ada. Warga dengan sukarela meluangkan waktu dan tenaga demi kepentingan bersama, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Setiap minggu, para ibu-ibu di lingkunganku memiliki jadwal khusus untuk membersihkan taman TOGA atau Tanaman Obat Keluarga. Taman tersebut berisi berbagai jenis tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti jahe, kunyit, dan tanaman herbal lainnya. Keberadaan taman TOGA ini menjadi salah satu bentuk kepedulian warga terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dalam satu bulan terdapat empat minggu, dan di lingkungan RT-ku terdapat empat kelompok dasawisma atau yang biasa disebut dawis. Setiap kelompok dawis mendapatkan giliran tugas secara bergantian setiap minggunya. Dengan adanya pembagian tugas tersebut, kegiatan perawatan taman dapat berjalan secara teratur dan merata tanpa membebani satu kelompok saja.
Kegiatan dawis tidak hanya berfokus pada kebersihan taman, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antaribu-ibu. Mereka sering berbincang, saling bertukar informasi, serta berbagi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Suasana kebersamaan yang terjalin membuat hubungan mereka semakin akrab dan harmonis.
Sementara itu, para bapak-bapak juga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan. Mereka biasanya melakukan kerja bakti apabila terdapat fasilitas yang perlu diperbaiki, seperti memperbaiki gapura, meratakan jalan, atau membersihkan area makam. Kegiatan tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan penuh semangat kebersamaan.
Kehidupan masyarakat di lingkunganku benar-benar mencerminkan kerukunan dan ketenteraman. Setiap warga saling mengenal satu sama lain, sehingga tercipta rasa kepedulian yang tinggi. Jika ada warga yang membutuhkan bantuan, warga lainnya akan dengan sigap membantu tanpa ragu.
Hubungan antarorang tua di lingkunganku juga terjalin dengan sangat baik. Mereka sering berinteraksi dalam berbagai kesempatan, baik dalam kegiatan formal maupun nonformal. Kedekatan ini membuat suasana lingkungan terasa seperti sebuah keluarga besar yang saling mendukung dan menjaga.
Untuk anak-anak dan remaja, kondisi kehidupan sosial memang sedikit berbeda. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Aktivitas seperti bermain gawai atau belajar secara daring membuat interaksi langsung berkurang.
Meskipun demikian, semangat kebersamaan tetap terlihat ketika ada acara tertentu, seperti peringatan Hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Pada momen tersebut, anak-anak dan remaja turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, seperti perlombaan dan persiapan acara. Mereka bekerja sama dan saling membantu, sehingga tercipta suasana yang meriah dan penuh kebersamaan.
Lingkunganku mungkin tidak memiliki keistimewaan yang mencolok di mata orang lain, tetapi bagiku tempat ini memiliki nilai yang sangat berarti. Kehangatan, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan yang ada menjadikan desaku terasa istimewa. Aku merasa sangat bersyukur dapat lahir dan tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kebaikan ini. Desaku bukan hanya sekadar tempat tinggal, melainkan juga rumah yang memberikan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagiaan dalam hidupku. (*)