Oleh Fuji Nurhayati Rahmawati
Tersembunyi di pelukan Pemalang bagian selatan, Curug Bengkawah bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah simfoni alam yang tercipta dari harmoni air, batu, tanah, dan udara yang murni. Letaknya di Desa Sikasur, Kecamatan Belik, air terjun ini berdiri megah bagaikan tirai kristal yang jatuh dari ketinggian, menawarkan pelarian sempurna bagi jiwa-jiwa yang lelah dengan hiruk-pikuk rutinitas.
Ketika perjalanan belum mencapai titik air terjun, telinga aku disambut oleh sayup-sayup simfoni alam yang kian lama kian menderu. Suara yang berasal dari jatuhan air yang perkasa adalah sebuah pengumuman dari alam untuk melangkah masuk ke dalam yang didominasi oleh kesegaran abadi dan kemurnian air yang belum terjamah oleh polusi.
Langkah kaki kian maju menuju titik air terjun. Pandangan langsung dimanjakan oleh kemegahan aliran air yang meluncur deras menghantam ke bawah. Suara gemuruh yang dihasilkan dari hantaman air ke bawahnya menciptakan sebuah melodi alam yang megah, menenggelamkan segala kebisingan pikiran yang sering kali mengganggu. Frekuensi suara yang seolah-olah sebagai terapi membawa gelombang ketenangan yang merambat pelan masuk ke dalam relung jiwa yang paling dalam.
Ketika fenomena sang surya menyelinap ke sudut yang tepat, bias cahayanya menyentuh butiran halus percikan air yang melayang di udara, menciptakan pelangi kecil yang melengkung indah di depan air terjun, sebuah pemandangan yang mampu menghentikan waktu sejenak.
Hawa yang menyelimuti seakan merangkul dengan kelembutan. Ketika aku mencoba menutup mata, menarik napas dengan dalam, serta dihembuskan secara perlahan. Aku merasakan asupan energi baru bagi paru-paru yang setiap hari terbiasa menghirup sesaknya asap knalpot dan polusi industri.
Duduk di atas bebatuan dengan memasukkan kaki ke dalam kolam air membuat sensasi tersendiri. Ketika aku melihat ke bawah, ada bayangan yang memantul pada dasar kolam. Seperti inikah alam bekerja? Sungguh luar biasa.
Area di sekitar yang masih terjaga menciptakan gradasi warna hijau yang berasal dari pepohonan. Seolah-olah alam sedang memamerkan kemampuannya yang tanpa campur tangan manusia. Namun, ada pemandangan yang kontras tetapi selaras: di satu sisi ada air terjun yang jatuh dengan gemuruh dahsyat, dan di sisi lain ada kesabaran yang tenang dari ujung joran pancing.
Aku melihat beberapa warga yang duduk dengan tenang. Mereka melempar kail ke dalam, sesaat memperhatikan gerakan pelampung mereka yang menari-nari di atas air. Seolah tidak terganggu di tengah derasnya arus kehidupan yang diwakili oleh jatuhan air terjun, selalu ada titik-titik tenang di pinggiran di mana seseorang bisa berhenti sejenak, bersabar, dan menunggu dengan penuh keyakinan. Karena hanya air yang bersihlah yang menjadi rumah bagi ikan-ikan yang lincah.
Di sisi lain, saat melihat joran mereka melengkung, mereka menandakan bahwa seekor ikan telah menyapa kail mereka. Ada senyum yang merekah, membuat suasana di sekitar curug terasa lebih hangat dan bersahabat, membuktikan bahwa alam ini memberikan keberkahan bagi siapa saja. Kemudian ikan tersebut dibakar untuk dijadikan santapan bersama.
Sebagai penutup perjalanan, mentari yang mulai condong ke barat seolah memberikan restu untuk pulang dengan semangat yang telah diperbarui. Curug Bengkawah adalah bukti bahwa keindahan surgawi tidak selalu sulit untuk dijangkau. Tempat ketenangan yang siap membasuh segala lelah dan menggantinya dengan semangat baru yang mengalir deras sedahsyat air terjunnya.
Sebelum meninggalkan, aku menyempatkan diri untuk menarik napas dalam-dalam, mengunci memori indah tersebut di dalam benak. Perjalanan ini mungkin berakhir di sini, namun memori tentang pelangi di balik tirai air, kesejukan, dan ketenangan akan tetap tersimpan di dalam ingatan. Curug yang akan selalu berdiri kokoh di sana, menunggu dengan setia untuk kembali memberikan kesejukan bagi siapa saja yang merindukan pelukan alam.
Ada rasa syukur yang mengalir saat menoleh untuk terakhir kalinya, menyadari bahwa ketenangan sejati ternyata tidak jauh dari jangkauan. Keindahan yang baru saja disaksikan bukan sekadar objek wisata, melainkan pengingat bahwa di sela-sela yang melelahkan, alam selalu menyediakan ruang untuk bernapas dan memulihkan diri seutuhnya bagi siapa saja yang mau datang berkunjung.(*)