KKN GIAT 16 UNNES Dorong Pemilahan Sampah di Desa Watuurip, Gandeng Puskesmas dan Dukung SDGs

Mahasiswa KKN UNNES GIAT 16 WATUURIP Melakukan sosialisasiPemilahan Sampah bersama puskesmas, di Balai Desa Watuurip Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Selasa  (04/8/2026) (Dok. Tim KKN Giat 16 Watuurip)

Banjarnegara– Kelompok KKN GIAT 16 Universitas Negeri Semarang (UNNES) Desa Watuurip, yang bertempat di Posko Binangun Gunung RT 3 RW 3, turut mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, M.Pd.

Melalui program pengelolaan limbah sampah, kelompok KKN mengajak warga untuk mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah, sehingga sampah organik maupun anorganik dapat ditangani sesuai jenisnya. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta SDGs 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab..

Kelompok yang beranggotakan Shendy Wibowo Putro, Aziizatun Nisa, Faisal Abul Khairi, Anindya Nursaila Zulfa, Neysa Amalia, Adinda Wahyu Handayani, Ahmad Imam M., Vara Mahesa Ayu, Arif Satria Tama, dan M. Winarno Burhanuddin tersebut melaksanakan program pengelolaan sampah melalui pembuatan tempat sampah Organik dan Anorganik. kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi kepada masyarakat yang dilaksanakan bersama pihak puskesmas.

Atas arahan Kepala Desa Watuurip, empat tempat sampah anorganik yang dibuat oleh Tim KKN mulai ditempatkan pada 2 Agustus 2026 di sejumlah fasilitas umum desa. Keempat lokasi tersebut meliputi TPQ Masjid Al Maarif, TPQ Masjid Baitussalam, Posyandu Desa Watuurip, dan Lapangan Voli Desa Watuurip, dengan masing-masing tempat sampah diperuntukkan sebagai perwakilan dari satu RW.

Penempatan tersebut diharapkan tidak sekadar menyediakan fasilitas pembuangan, tetapi juga menjadi contoh bagi warga agar dapat membuat tempat sampah serupa dan mulai memilah sampah dari rumah.

Ketua RT 2 RW 3 Desa Watuurip, Rebin, mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah anorganik di lingkungan warga selama ini masih belum terarah. Menurutnya, masyarakat cenderung membuang sampah secara mandiri tanpa tempat pembuangan yang jelas.

“Itu dibuang masing-masing entah di mana,” ujar Rebin saat menjelaskan kebiasaan warga dalam membuang sampah, termasuk botol plastik.

Meski demikian, Rebin menyambut positif adanya kegiatan penyediaan tempat sampah anorganik tersebut. Ia berharap keberadaan fasilitas itu dapat mendorong masyarakat untuk mulai membiasakan diri memilah dan mengelola sampah. Namun, menurutnya, hal tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kesadaran warga.

“Sebenarnya kalau ada seperti itu lebih bagus, cuma warga sini yang belum sadar,” kata Rebin.

Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, KKN GIAT 16 kemudian menggelar sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik pada 4 Agustus 2026 di Balai Desa Watuurip dengan menggandeng Puskesmas. Edukasi tersebut membahas jenis sampah, cara memilah, serta pentingnya pengelolaan sampah dari rumah.

Selain sampah anorganik, mahasiswa juga mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui biopori yang direncanakan satu unit di setiap RT.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KKN GIAT 16 berharap masyarakat tidak hanya memiliki fasilitas, tetapi juga membangun kebiasaan memilah sampah secara mandiri dan berkelanjutan.