Pada zaman ini, tidak dapat dimungkiri bahwa perkembangan dalan berbagai hal salah satunya teknologi benar-benar cukup pesat, tidak terkecuali perkembangan pada kecerdasan buatan atau bisa disebut Artificial Intelligence (AI). Pada saat ini, AI mengalami perkembangan yang benar-benar pesat sampai berada di titik di mana AI dapat menghasilkan berbagai macam karya dalam waktu yang singkat, salah satunya pada bidang seni rupa. AI dapat membuat sebuah gambar hanya dalam hitungan detik, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi AI untuk menciptakan berbagai macam gambar. Hal ini bisa dibilang mengkhawatirkan para seniman, apalagi mereka yang mendapatkan uang dengan menggambar sebuah ilustrasi. Bisa dibilang bahwa topik tentang AI merupakan topik yang sampai saat ini masih dibahas seiring dengan berbagai perkembangan yang telah terjadi.
Permasalahan tentang AI tidak dapat dihindari mengingat AI merupakan suatu sistem yang membantu umat manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. AI membuat pekerjaan manusia menjadi efektif dan efisien. Namun, AI juga dapat mengancam beberapa pihak antara lain orang-orang yang pekerjaannya diambil alih oleh AI. Salah satu yang merasa terancam dengan AI ini adalah para seniman. Seniman merasa bahwa kedatangan AI adalah sebuah permasalahan bagi mereka. Hal ini dikarenakan AI yang telah berkembang dapat menghasilkan berbagai macam gambar dalam hitungan detik, sehingga membuat para seniman merasa tertekan akan kehadiran AI .
Alasan yang mendasari mengapa para seniman tidak menyukai AI bisa dibilang bermacam-macam. Namun apabila dilihat dari peristiwa yang telah terjadi, hal ini dapat menjadi alasan mengapa para seniman tidak menyukai AI.
Alasan pertama mengapa seniman tidak menyukai AI adalah karena AI merenggut pekerjaan mereka. Dapat dilihat dari beberapa waktu yang lalu bahwa beberapa perusahaan mulai mengiklankan produk mereka menggunaan AI. Tidak hanya itu, beberapa pihak lebih memilih membuat poster dengan bantuan AI daripada menyewa para seniman untuk membuat poster tersebut. Hal ini dapat terjadi karena bagi mereka, penggunaan AI lebih memangkas biaya daripada menyewa seseorang untuk menggambar sesuatu. Selain itu, AI terbukti lebih cepat dalam menghasilkan gambar daripada seniman yang membutuhkan waktu untuk menyelesaikan gambar yang telah dipesan.
Alasan kedua yang mungkin mendasari para seniman untuk tidak menyukai AI adalah karena beberapa pihak melakukan sebuah kecurangan dalam sebuah perlombaan dengan bantuan AI. Salah satu contohnya yaitu ketika diadakan sebuah penilaian terhadap karya berupa lukisan yang dilakukan secara daring, ada pihak yang secara sengaja menggunakan AI untuk menghasilkan lukisan yang diinginkan. Ketika juara diumumkan, tidak disangka bahwa pihak yang menjadi juara adalah pihak yang menggunakan AI tersebut. Hal ini membuat para seniman marah karena merasa usaha yang telah meraka lakukan tidak dipandang dengan serius oleh para juri tersebut.
Kedatangan AI bisa dibilang merupakan sebuah tantangan bagi para seniman karena beberapa pekerjaan mereka seolah direnggut oleh AI itu sendiri. Namun, kehadiran AI tersebut dapat menjadi solusi bagi seniman karena AI dapat mempermudah pekerjaan mereka. Salah satunya dalam mencari refeerensi untuk gambar yang akan dilukis. Seniman dapat mencari ide dengan menggunakan AI sehingga kemampuan dalam menyelesaikan karya menjadi lebih cepat. Selain itu, dengan menggunakan AI, seniman dapat berkreasi dengan palet warna sehingga karya yang dibuat menjadi lebih variatif dalam pemilihan
Meskipun perkembangan AI memicu kekhawatiran bagi banyak kalangan termasuk para seniman, AI juga dapat menjadi sebuah harapan bagi mereka yang ingin meningkatkan kemampuan serta memudahkan mereka dalam menemukan sebuah ide yang akan digunakan untuk karyanya nanti.(*)
Oleh Muhammad Alfan Ramadhan (Ilmu Hukum UNNES)