Oleh Atikhotussalma
Sore itu, langit Semarang memancarkan cahaya keemasan saat aku melangkah memasuki kawasan Kota Lama Semarang. Suasananya terasa berbeda lebih damai, seolah menyimpan berbagai kisah dari masa lampau. Angin berhembus pelan, membawa aroma khas bangunan tua dan jalanan yang telah lama menjadi saksi perjalanan waktu.
Bangunan-bangunan tua berdiri tegak, dengan cat yang mulai pudar namun tetap memancarkan pesona yang khas. Setiap sudutnya seakan berbicara, menghadirkan bayangan kehidupan di masa kolonial. Jendela-jendela besar, pintu kayu yang kokoh, serta ornamen klasik menambah kesan elegan yang tak lekang oleh zaman.
Aku berhenti sejenak di depan sebuah gedung kuno dengan jendela lebar dan pintu kayu yang tinggi. Meski terlihat usang, justru di situlah daya tariknya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan seakan tempat ini menyimpan rahasia yang hanya bisa dirasakan, bukan diungkapkan.
Berbeda dengan bangunan modern yang selalu berubah mengikuti tren, tempat ini terasa seperti mempertahankan waktunya sendiri. Ia tidak terburu-buru mengejar masa depan, melainkan setia menjaga masa lalu agar tetap hidup dan bermakna.
Tiba-tiba, seorang bapak tua dengan sepeda ontel menghampiri. “Mau berkeliling, Nak?” ujarnya ramah. Wajahnya teduh, dengan senyum yang menghangatkan. Tanpa ragu, aku menerima tawarannya ingin merasakan Kota Lama dengan cara yang lebih dekat dan personal.
Sepeda mulai bergerak perlahan, diiringi bunyi roda yang berdecit lembut. Kami menyusuri jalanan yang dipenuhi wisatawan. Dari kejauhan, terdengar alunan musik yang menambah suasana syahdu, berpadu dengan tawa dan percakapan para pengunjung.
Bapak itu mulai bercerita tentang masa kejayaan kawasan ini saat dipenuhi aktivitas perdagangan. Ia mengisahkan bagaimana dahulu bangunan-bangunan megah ini menjadi pusat bisnis dan pertemuan para pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Ia juga menunjuk beberapa gedung yang kini telah berubah fungsi. Ada yang menjadi kafe modern dengan sentuhan klasik, ada pula yang dialihfungsikan menjadi galeri seni. Perubahan itu tidak menghilangkan nilai sejarahnya, justru membuatnya semakin relevan dengan kehidupan masa kini.
Aku menyimak setiap ceritanya dengan antusias. Setiap sudut yang kami lewati seakan memiliki kisah tersendiri. Semakin lama, aku merasa bukan hanya berjalan di sebuah tempat, tetapi juga melintasi waktu.
Kami berhenti di sebuah taman kecil. Aku duduk di bangku kayu sambil mengamati suasana sekitar. Anak-anak bermain riang, pasangan muda berfoto, dan para pengunjung sibuk mengabadikan momen. Di tengah itu semua, aku merasakan kehangatan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi sesuatu yang terus hidup di tengah masyarakat.
“Dulu tempat ini hampir dilupakan,” ujar bapak itu pelan. “Tapi sekarang, orang-orang mulai datang kembali untuk mengenal sejarahnya.” Kata-katanya membuatku merenung betapa pentingnya menjaga dan menghargai peninggalan masa lalu.
Saat senja mulai berganti malam, lampu-lampu mulai menyala, menambah keindahan suasana. Aku pun berpamitan. Perjalanan hari itu bukan hanya sekadar kunjungan, tetapi pengalaman berharga untuk memahami bahwa budaya adalah bagian penting yang harus dirawat dan diwariskan. Di Kota Lama Semarang, aku menyadari bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang ia selalu ada, menunggu untuk kembali dikenang.(*)