Oleh Intan Ardiani
Dulu waktu aku masih SD di daerahku, ada satu rumah yang selalu jadi bahan omongan anak-anak. Rumah itu sepi banget, kayak nggak pernah ada kehidupan di dalamnya. Padahal, kata orang-orang, sebenarnya rumah itu ada penghuninya. Cuma entah kenapa, jarang banget keliatan. Halaman depannya agak luas, tapi yang paling mencolok itu satu pohon besar yang berdiri tepat di depan rumahnya.Pohon itu gede banget, batangnya tua dan akarnya menjalar ke mana-mana. Nah, yang bikin merinding, di bawah pohon itu ada sesuatu yang aneh: sebuah tangan besar yang muncul dari tanah. Bentuknya jelas banget kayak tangan manusia, tapi ukurannya jauh lebih besar daripada tangan orang biasa. Dari kecil, aku tiap lewat situ selalu merinding sendiri.
Suatu hari, ada anak SMP yang lewat dan ngomong ke kami, “Itu tangan hantu loh.” Dia ngomong dengan santai, tapi entah kenapa langsung bikin suasana jadi beda. Katanya lagi, rumah itu angker dan tangan itu adalah tangan hantu yang nyangkut di situ. Sebagai anak SD yang masih polos dan gampang percaya, ya, kami langsung percaya aja.
Sejak saat itu, setiap hari sepulang sekolah, aku dan teman-teman sengaja mampir ke rumah itu. Kami berdiri agak jauh, cuma buat ngeliatin “tangan” itu. Kadang ada yang berani mendekat sedikit, tapi kebanyakan cuma lihat dari jauh sambil bisik-bisik takut.Rasa penasaran kami makin lama makin gede. Setiap hari kami selalu balik lagi ke sana, seakan-akan berharap tangan itu bakal bergerak atau ngasih tanda kalau itu memang hantu. Tapi ya tetap aja diam, nggak berubah sama sekali.
Di antara kami, ada satu teman cowok yang terkenal paling berani. Atau mungkin lebih tepatnya, sok berani. Dia sering banget nantangin kami dengan bilang, “Ah, paling cuma boongan. Nggak mungkin itu hantu.”Suatu hari, dia benar-benar membuktikan omongannya. Dia jalan mendekati pohon itu, sementara kami semua cuma bisa nonton dari belakang dengan deg-degan. Jujur aja, waktu itu aku takut banget, tapi juga penasaran.
Dia jongkok di dekat “tangan” itu, lalu mulai memegang dan menarik pelan-pelan. Kami langsung teriak, nyuruh dia berhenti. Tapi dia malah makin semangat, menarik lebih kuat lagi. “Nih lihat! Kalau hantu pasti gerak!” katanya.
Tapi anehnya, tangan itu nggak bergerak sama sekali. Mau ditarik sekuat apa pun, tetap diam di tempat. Dari situ, rasa penasaran kami malah makin menjadi-jadi. Kalau itu hantu, kenapa nggak bereaksi? Tapi kalau bukan, terus itu apa?Hari-hari berikutnya, kami jadi makin sering ke sana. Bahkan beberapa dari kami ikut-ikutan berani menyentuh dan menarik tangan itu. Kami kayak terobsesi buat ngebuktiin, itu sebenarnya apa.
Sampai akhirnya, suatu hari, pemilik rumah itu keluar dan ngelihat kami lagi ngumpul di bawah pohon. Kami langsung panik, takut dimarahin. Tapi ternyata dia cuma ketawa kecil dan nanya, “Kalian lagi ngapain?”Dengan polos, kami bilang kalau kami lagi lihat “tangan hantu”. Mendengar itu, dia malah makin ketawa. Lalu dia jelasin kalau itu bukan tangan hantu sama sekali. Itu cuma patung yang sengaja ditanam di situ buat pajangan, biar terlihat unik.
Di situ rasanya campur aduk banget antara malu, lega, dan sedikit kesel karena ternyata selama ini kami ketakutan sendiri. Tapi di sisi lain, pengalaman itu jadi sesuatu yang nggak bakal aku lupain. Dari situ aku sadar, kadang yang bikin sesuatu terasa menyeramkan itu bukan kenyataannya, tapi pikiran kita sendiri.(*)