Ini adalah cerita dari ayahku, salah satu cerita yang berkesan bagiku. Selama kehidupan beliau, ayahku memiliki banyak pengalaman, terutama pengalaman supernatural. Cerita ini adalah salah satu dari pengalaman tersebut, yang beliau ceritakan kepadaku dan kakak-kakakku semasa kami masih kecil. Karena itu, aku dan kakak-kakakku cukup familiar dengan hal-hal supernatural. Tetapi, cerita ini bukanlah tentang aku dan kakak-kakakku, melainkan tentang ayahku dan pengalamannya di Gunung Gede.
Pada suatu hari di tahun 1997, ayahku dan teman-temannya dari Kampus STIE Tri Dharma Widya Jakarta, mendapatkan ide untuk mendaki dan berkemah di Gunung Gede di lingkup Taman Nasional Pangrango. Keputusan ini cukup spontan, dalam 5 hari mereka bersiap-siap memulai pendakian, mereka setuju untuk berangkat pada Jumat siang. Anggota yang ikut ada 28 orang dengan berbagai status, juga ada yang sudah bekerja. Mereka berangkat menggunakan bis tentara, lengkap dengan sopir.
Setelah 4 hingga 5 jam perjalanan mereka akhirnya sampai di penginapan di Cibodas, sayangnya ayahku sudah tidak ingat nama penginapan ini. Beliau ingat, bahwa penginapan ini adalah kepemilikan paman teman, dengan 15 kamar, dapur, juga mushola yang cukup besar. Ketika sudah sampai, sebagian ada yang sholat ashar dan ada yang beres-beres. Setelah makan, mereka mengobrol dan bersenda gurau bersama, bahkan ada yang membawa gitar dan orgen, mereka bernyanyi dan bersenang-senang. Suasananya sungguh cerah dan bahagia, mereka menikmati waktu mereka bersama.
Magrib pun datang, dengan terbenamnya matahari, suasana kental gunung mengendap masuk. Teman ayahku yang sudah pernah mendaki Pangrango, kebetulan memiliki saudara yang ada di sekitar situ, ia menyarankan untuk minta doa keselamatan dari tetua di situ, bila besok pagi akan mendaki Pangrango, dan mereka pun setuju. Setelah Salat Isya, datanglah tetua atau ajengan (kyai), mereka doa bersama. Beliau berpesan “Nanti setelah memulai mendaki tetap jaga adab, sebab selain kuta ada juga mahluk lain, yang sama-sama menempati lokasi tersebut, jangan berbicara sembarangan, bicara keras teriak teriak, jangan bercanda keterlaluan, tidak boleh kencing sembrangan, buang hajat sembarangan….”. Setelah berpesan, beliau pun pulang diantar ojek yang disewa oleh ayahku dan teman-temannya untuk tinggal di penginapan selama dua hari.
Keesokan harunya, selepas Salat Subuh, ayahku dan teman-temannya berjalan-jalan di sekitar penginapan sebelum mulai mendaki. Mereka tidak membawa tenda seperti biasanya, karena mereka tidak jadi berkemah di gunung, rencana mereka adalah untuk mendaki, melapor ke pos, lalu langsung kembali ke penginapan. Dimulainya pendakian ada beberapa yang tidak ikut karena tidak enak badan, dan beberapa juga tinggal untuk merawat teman yang sakit. Dijalan, mereka bertemu tetua yang mereka temui di hari sebelumnya, yang ternyata adalah penjaga pos jaga. Beliau berkata “Hati-hati ya nak.”,“Iya pak!” ayahku dan teman-temannya serentak menjawab.
Dalam pendakian ini, mereka harus melewati 5 pos untuk sampai di puncak. Pos 1 [Imformasi], pos 2 [Legok Leunca], pos 3 [Buntut Lutung], pos 4 [Simpang Maleber], pos 5 [Alun-alun Surya Kencana Barat], lalu puncak. Dulu, masih banyak sekali pohon-pohon besar dan semak-semak belukar, hawanya sungguh sejuk, dengan suara pohon yang tertiup angin, katak yang mengerok, dan burung pagi yang berkicauan. Mereka mendaki sambil mengobrol, bercanda ria, bersenang-senang. Dalam waktu 2 jam mereka telah melewati pos 1 dan pos 2, dengan aman tanpa tragedi apa-apa. Ketika sampai di pos 3, ada beberapa yang memencar untuk mencari tempat istiraht masing-masing, di pos inilah mulai terjadi keanehan.
Ketika sedang beristirahat, ada 5 teman ayahku yang mulai berperilaku aneh. Ada 2 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. satu orang lelaki itu hanya terdiam dengan tatapan kosong, mata mereka sudah memerah, sedangkan yang satunya berteriak-teriak tidak jelas. Ayahku membacakan doa kepada yang berteriak-teriak, ayat kursi, al iklas, al falak, dan an nas, setelah itu ia agak tenang. Dua perempuan tertawa-tawa layaknya orang gila, sedangkan yang satu lagi menangis histeris. Ayahku dipercayakan sebagai ketua keamanaan, jadi beliau kesana-kemari mencoba untuk menenangkan teman-temannya.
Ketika sudah agak tenang, mereka yang berperilaku aneh mulai lemas tidak bertenaga. Kebetulan sekali ada gerombolan orang dari puncak, yang sedang membawa orang dengan tandu. Ayahku meminta tolong kepada mereka untuk membawahan 3 tandu, gerombolan orang itu mengerti keadaan mereka dan melanjutkan perjalanan turun untuk membawa bantuan. Satu jam telah berlalu, kelima orang teman ayahku mulai menangis seperti anak kecil, yang laki-laki maupun perempuan. Ayahku dan teman-temannya yang baik-baik saja hanya bisa mengamati dan membaca doa.
Akhirnya bantuan pun datang, mereka mulai membantu teman-teman ayahku. Lalu ayahku melihat seseorang yang tidak asing, ialah tetua yang mereka pernah temui itu. Rupanya, tetua ini sudah mengira bahwa rombongan ayahku akan mengalami hal seperti ini. Beliau membacakan sejenis rapalan kepada mereka, dan meminta mereka untuk minum air, mereka pun mulai tenang. Tetua itu berkata, “..Nak baiknya jangan di lanjutkan, semua pulang, lain hari saja kemari lagi…” akhirnya mereka pun kembali ke penginapan.
Sesampainya di penginapan, dua orang mulai teriak-teriak dan tertawa, minta dikembalikan ke pos 3 Buntut Lutung. Teman-teman ayahku yang lain melihat kebingungan, sedangkan yang tadinya bertingkah aneh hanya bosa tiduran tidak ada tenaga. Ayahku dan satu orang temannya, merasa kasihan terhadap bapak tetua yang sibuk sendirian, dan memutuskan untuk membantu. Bapak tetua mengajak bicara dua perempuan itu, “kamu siapa?” perempuan itu melihat bapak tetua sambil tersenyum lebar, dengan suara seperti mbah-mbah ia berkata, “Akulah penunggu pohon yang dikencingi anak ini! Tidak ada sopan santun! Aku tidak terima!” tetua menjawab “kasihanilah anak ini, dia kesakitan” “minta maaf dulu! Dan berikan aku kopi pahit!” Ayahku membuatkan kopi pahit, dan ia berikan kepada perempuan itu. Ayahku dan teman-temannya mewakili teman perempuannya itu minta maaf, akhirnya perempuan itu kembali normal, dan tertidur.
Bapak tetua mendekati yang satunya, ia bertanya, “siapa ini?…” lelaki itu menatap tetua dan berkata, “Aku penunggu sumur tua yang di injak injak meludah sembarangan lalu pipis, gak terima, harus minta maaf ini anak kurang ajar…!”, dengan suara seperti nenek-nenek. “Maafkan nek ini cucumu tidak tau, segeralah pulang…” kata tetua “Tidak bisa…! Minta maaf dulu baru aku mau pulang.., minta teh manis baru aku mau pulang!” Ayahku dan teman-temannya yang sadar pun minta maaf, dan menghidangkan the manis, lelaki itu pun tertidur.
Ayahku dan teman-temannya berkumpul, tetua berpesan kepada mereka, “Kejadian seperti ini sering terjadi, makanya saya ngikuti kalian. Karena kebanyakan baru pertama mendaki, jadi penunggu2 di sana belum kenal, apalagi kalian tertawa tawa, bebas bicara dan di tambah kencing sembarangan, jadi penunggunya marah. Sebagai pengalaman, kemanapun memasuki tempat baru dll kita harus ucapkan Bismillah, salam, bersholawat, walaupun dalam hati , tapi lebih baik terucap.” Beliau pun pamit pulang, ayahku dan teman-temannya bersalaman sambil berterimakasih, dan memberi uang seadanya. Ayahku dan teman-temannya berkumpul sebentar, dan ayahku berkata “Maaf semuanya, bagaimana kalau kita pulang saja? Kita mengalamai kejadian seperti ini… lebih baik kita tidak menginap lagi.” Teman-temannya pun setuju, menunggu yang lainnya istirahat, mereka beres-beres, dan akhirnya pulang.
Begitulah akhir dari cerita ini. Cerita ini, mengajarkan aku dan kakak-kakakku untuk tetap menjaga sikap dan tetap sopan dimanapun kita berada. Kami selalu diingatkan bahwa dunia ini bukan milik kita, dan ada akibat untuk segala sesuatu yang dilakukan, baik itu dari manusia lain atau lainnya. Tapi tentu saja, satu-satunya hal fakta dari semua ini adalah ini cerita dari ayahku. Kebenaran bahwa ini cerita asli, atau hanya cerita yang digunakan ayahku untuk mengajarkan sopan santun kepada putri-putrinya, atau bahkan pengalaman asli yang ia buat jadi pelajaran, aku tidak tahu, yang tahu hanyalah ayahku, yang punya cerita, dan tuhan yang punya dunia. (*)
Oleh Siti Noor Nayla Al Husna