Jalur Gaza di Semarang, adalah nama tidak resmi untuk sebuah jalan tembus yang menghubungkan dua kecamatan, yaitu Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Gunungpati. Jalur ini menjadi populer di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) karena dapat mempersingkat waktu perjalanan antara kedua kampus tersebut. Umumnya, untuk menuju UNNES dari UNDIP, orang akan melewati Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA) dan menuju tanjakan Trangkil yang membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit. Sementara jika melewati Jalur Gaza, kita hanya membutuhkan waktu sekitar 10-20 menit. Waktu yang relatif singkat untuk menuju UNNES.
Walaupun banyak efisiensi waktu yang kita dapatkan, ada konsekuensi yang harus kita terima, yaitu resiko bagikeselamatan. Jalur alternatif ini memiliki kualitas aspal yang jelek dan medan yang ekstrim karena curamnya jalan yang naik dan turun, seperti menaiki bukit. Lebar jalan yang sempit juga menjadikan jalan ini hanya bisa dilewati menggunakan sepeda motor, walau terkadang ada saja mobil yang memilih nekat untuk menjajal jalur ini. Minimnya penerangan juga menjadi hambatan bagi orang awam untuk coba-coba, terutama pada saat nmalam hari. Kendaraan pun dituntut untuk harus selalu dalam kondisi prima pada saat melewati jalur ini, karena tak jarang banyak sekali insiden yang terjadi pada saat saya melewati jalur ini, seperti terjatuh dari motor karena terkena lubang, tidak kuat nanjak, rem blong, dan lain-lain.
Dari banyaknya kejadian-kejadian tadi, tak jarang banyak orang mengaitkan hal tersebut dengan hal-hal mistis. Contohnya tentang penampakan sosok ratu ular yang sering menyebrang di Jalur Gaza itu. Saya sempat bertanya kepada warga sekitar tentang penampakan tersebut. Beberapa dari mereka bilang bahwa hal tersebut merupakan kejadian yang sudah lama terjadi dan tidak hanya sekali-dua kali terlihat.
“Sosoknya berbentuk ular besar dengan mahkota di kepalanya. Benar-benar besar dan tidak seperti ular pada umumnya. Saya dulu sempat kaget saat melihatnya kali pertama.”
Saya sendiri pun sempat percaya bahwa sosok tersebut benar adanya.
Lalu, selain sosok ratu ular ada penampakan perempuan dengan baju putih berambut panjang. Perempuan tersebut sering berdiri di sekitar Jembatan Bangkong yang menjadi jembatan penghubung antara Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Gunungpati.
“Iya, itu ada juga perempuan yang rambutnya Panjang di dekat jembatan, bajunya putih dan panjang. Kadang suaranya kaya meringkih-ringkih kesakitan gitu”.
Penampakan tersebut sering terjadi saat kisaran waktu setelah Magrib hingga tengah malam. Walau faktanya saya sendiri pernah melewati jalur tersebut pada pukul 02.00 dan tidak terjadi apa-apa. Mungkin saja itu halusinasi dari beberapa orang yang kurang iman dan lupa membaca doa saat perjalanan melewati jalur itu.
Sosok lain juga pernah terlihat di Jalur Gaza tersebut, yaitu perempuan yang meminta nebeng kepada pengendara yang lewat.
“Itu suka minta bonceng di sebelum jembatan, terus setelah naik pas di tengah jalan malah hilang. Gak tahu ke mana,” ujar seorang warga sekitar.
Katanya, bukan hanya sekali ataupun dua kali kejadian ini terjadi, bahkan pernah tiga hari berturut-turut kejadian mistis itu menghantui para pengendara yang lewat.
“Biasanya mahasiswa yang suka pulang malam itu, seringnya mahasiswa yang dimintain nebeng sama hantunya” ujar warga sekitar lainnya. Karena memang benar di sekitar Jembatan Bangkong itu sangat minim sekali pencahayaan, dan pengendara hanya bisa mengandalkan dua lampu di setiap ujung jembatan.
Pengalaman mistis lainnya juga kerap terjadi pada Ojol (ojek online) yang ingin menjemput penumpang di Kawasan Jalur Gaza tersebut. Katanya, ada tukang ojek yang bingung karena ada orang yang pesan di kawasan tersebut, namun pada saat tukang ojek tersebut telah sampai di titik penjemputan, tidak ada yang memesan. Malah, hanya ada semak belukar dan rumah yang sudah cukup lama tidak ditinggali.
“Iya, tukang ojek juga sempat ngambil pesanan di daerah sini, tapi pas sampai di titik jemput lah kok malah isinya rumah kosong di ujung sana”.
Saya pun mendatangi titik jemput yang dikatakan warga tersebut dan memang benar saja, di sana hanya ada semak-semak dan satu rumah yang sudah tidak ada penghuninya. Tapi menurut spekulasi saya, kejadian tersebut hanyalah ulah orang iseng yang sengaja memesan ojek di daerah seperti itu.
Pengalaman horor lain terjadi pada seorang mahasiswi UNNES yang pernah melewati jalan tersebut pada saat menjelang Magrib, menuju kosnya yang berada di Kecamatan Tembalang yang berlokasi di dekat UNDIP. Ia mengendarai sepeda motornya melalui Jalur Gaza dan tiba-tiba motornya pun mogok di tengah jalan, Ia berusaha menstarter motornya berkali-kali, namun usahanya terlihat sia-sia. Buruknya sinyal internet di sana membuatnya tak dapat menghubungi siapa pun dengan ponselnya. Ia pun pasrah, melihat situasi mencekam yang mulai gelap dan tak ada satu orang pun orang lewat lagi di sana.
Suara aneh pun mulai terdengar dari balik pohon-pohon tinggi, Ia pun mulai menangis karena merasa takut akan hal itu. Tiba-tiba seorang kakek tua lewat di sampingnya dan mengajaknya berbicara. “Iki udu dalanmu” (Ini bukan jalanmu) ucap kakek tua itu dengan suara yang berbisik.
“Apa maksudnya, mbah?” tanya mahasiswi tersebut dengan kebingungan. Kakek tua itu pun menjawab “Aja wani-wanine lewat kene meneh,” (Jangan berani-beraninya lewat sini lagi). Mahasiswi tersebut pun ketakutan dan langsung refleks menstarter motornya kembali. Tapi anehnya, motor tersebut pun langsung hidup, seperti tak ada kendala apa pun. Ia pun memacu motornya dengan kecepatan penuh di jalan yang gelap dan sempit itu,
Namun anehnya, di tengah perjalanan ia pun bingung karena Jalur Gaza yang biasanya ia lewati itu nampak asing. Ia pun merasa tersesat dan tidak tahu harus lewat arah mana, ia merasa seperti berputar-putar dan kembali pada titik tempat motornya mogok tadi. Ia terus mencari-cari jalan agar dapat pulang kembali ke kosnya. Setelah beberapa jam ia berputar-putar, tiba-tiba ia berada di tengah hutan yang begitu gelap dan nampak sangat asing baginya. Ia pun menyusuri hutan tersebut dengan penuh rasa takut. Tak selang lama, ia tiba-tiba sudah berada di gang menuju jalan raya yang terarah ke UNDIP. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung bergegas menuju kosnya dengan penuh rasa takut serta kebingungan.
Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita-cerita mistis di atas, karena Jalur Gaza bukan hanya menjadi jalan alternatif secara fisik, tetapi juga menjadi jalan refleksi akan pentingnya keselamatan, kesiapan, sikap hormat terhadap alam, dan kepercayaan kepada hal-hal yang tak kasat mata. Pentingnya untuk membaca doa sebelum bepergian kemanapun, terutama ke tempat yang belum pernah kita lewati sebelumnya.
Boleh saja jika kita tidak percaya pada hal-hal gaib yang telah terjadi di sana, namun di sisi lain, kita juga harus menghargai budaya dan kepercayaan setempat disana sesuai dengan peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Bagaimanapun, semua cerita di atas tetaplah cerita, kalau kebenarannya hanya Tuhan yang tahu.(*)
Oleh Harsasancaya Faiz Pramana