Pada suatu hari yang indah, dimulailah sebuah perjalanan yang kelak dikenang sepanjang zaman — perjalanan seorang tokoh agama bernama Kyai Maliu, yang menapaki jejak awal terbentuknya Banjarnegara. Dengan penuh keyakinan, beliau pun mulai menelusuri hutan-hutan, gunung, dan lembah selama berhari-hari untuk mencari sebuah tempat yang selama ini ia impikan—tempat yang kelak akan menjadi lokasi pendirian pondok sekaligus tempat tinggalnya.
Meskipun rasa lelah dan haus terus menghampiri sepanjang perjalanan, tekad Kyai Maliu tak pernah surut. Hingga pada suatu hari, langkahnya terhenti di sebuah tempat di dekat Kali Merawu—sebuah lokasi yang seketika menarik perhatiannya. “Keindahan alam sekitar Kali Merawu ini sangat mengesankan. Apakah ini tempat yang selama ini kucari?” batinnya bertanya penuh harap. Tanah di sekitar Kali Merawu berundak dan berbanjar mengikuti aliran sungai, dan di sekitarnya ada pegunungan Kendeng yang menjulang indah dan berhawa sejuk. Setelah merasa yakin dengan pilihannya, Kyai Maliu pun segera membangun sebuah pondok indah yang menghadap langsung ke arah Kali Merawu.
Kyai Maliu, yang dikenal berperangai baik, jujur, tekun, dan disiplin, segera mendapatkan penghormatan dari masyarakat sekitar. Berkat keteladanan yang ia tunjukkan, wilayah di sekitar pondoknya pun perlahan berkembang menjadi sebuah desa yang bersih, tertata, dan damai.
Suatu hari, Kyai Maliu mengumpulkan semua warganya di padepokannya. “Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudaraku semua, terima kasih kalian telah sudi mendatangi undangan saya,” berkatalah Kyai Maliu di hadapan warga yang diundangnya. Kemudian lanjutnya, “Apa kalian kerasan tinggal di tempat ini?”
Semua warga menjawab sudah betah dan nyaman tinggal di tempat baru tersebut. “Baik, terima kasih. Namun, ada suatu hal akan saya sampaikan kepada kalian.”
“Sesuatu apa, Kyai?” tanya seorang warga.
“Kalian tahu tempat ini belum bernama. Nah, maksud undangan saya kepada kalian adalah untuk melakukan musyawarah yang bertujuan untuk menetapkan nama yang tepat untuk desa kita ini.”
Kemudian musyawarah untuk menentukan nama desa pun dilaksanakan. Setelah banyak yang mengusulkan nama dengan alasannya masing-masing, maka Kyai Maliu juga ikut mengusulkan sebuah nama, yaitu Banjar. Alasannya adalah, karena tanah-tanahnya yang berundak dan berbanjar-banjar.
“Aku setuju Kyai….” jawab seorang warga. “Aku juga setuju Kyai….” jawab yang lainnya, hampir serempak.
Di saat musyawarah itu juga atas dasar kesepakatn warga, Kyai Maliu diangkat menjadi petinggi dan kemudian dikenal sebagai Kyai Ageng Maliu Petinggi Banjar.
Pada suatu masa, pondok Kyai Ageng Maliu kedatangan tiga tamu istimewa. Mereka adalah Giri Wasiyat, Prapen, dan Giri Pit—ketiganya merupakan putra dari Sunan Giri yang berasal dari Gresik. Kedatangan para ulama ini disambut hangat oleh Kyai Ageng Maliu, yang merasa sangat terhormat menerima kunjungan mereka. Dalam perbincangan yang berlangsung, Giri Wasiyat menyampaikan pesan penting tentang pentingnya mengamalkan ilmu demi kesejahteraan sesama, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad.
Pertemuan tersebut semakin mempererat hubungan antara Kyai Ageng Maliu dan para ulama dari Gresik. Sebagai wujud persahabatan, Giri Wasiyat bahkan menikahkan putrinya, Nyai Barep, dengan Kyai Ageng Maliu. Sejak saat itu, Kyai Ageng Maliu bersama istrinya aktif berdakwah dan membimbing masyarakat di Desa Banjar, tidak hanya dalam hal keagamaan tetapi juga dalam bidang pertanian. Seiring waktu, desa ini berkembang menjadi kawasan perdagangan yang ramai, lalu menjadi kadipaten dengan nama Banjar Watu Lembu. Pemerintahannya kemudian dipindahkan ke wilayah selatan Kali Merawu—daerah yang kini dikenal sebagai Kota Banjarnegara.(*)
Oleh Kevin Nabil Yudhistira