Tradisi Telitian di Desa Ketanggungan, Brebes: Sebuah Warisan Gotong Royong 

Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sebuah tradisi yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakatnya masih hidup hingga kini, yaitu tradisi telitian. Tradisi ini tidak sekadar ritual, melainkan mencerminkan semangat gotong royong yang mengikat warga satu sama lain dalam membantu sesama, terutama saat hajatan atau pembangunan rumah. Desa Ketanggungan menjadi salah satu wilayah yang menjaga tradisi ini, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka.

Saya bertanya dan berbincang dengan orang tua saya di teras rumah kami yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. “Telitian sudah ada sejak saya kecil,” katanya sambil tersenyum, mengenang masa lalu. 

“Ini bukan hanya tentang memberi dan menerima bantuan, tetapi tentang membangun ikatan yang kuat antar warga. Ketika saya kecil, setiap kali ada hajatan, seluruh desa akan berkumpul dan bekerja bersama.”

“Bagaimana sih suasananya waktu itu?” tanya saya penasaran. 

Ia menjawab, “Oh, suasananya sangat meriah, Kami seperti satu keluarga besar. Setiap orang membawa makanan, lalu kami berkumpul dan makan bersama setelah bekerja. Itu bukan hanya membantu, tetapi juga merayakan kebersamaan.”

Telitian merupakan bentuk nyata dari gotong royong masyarakat Brebes. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi ini, setiap anggota komunitas berkontribusi dengan tenaga, jasa, dan dukungan materi. “Warga memberikan sumbangan berupa uang atau barang untuk membantu seseorang yang sedang mengadakan hajatan atau membangun rumah. Ketika ada yang membutuhkan, kami semua bergerak bersama,” ungkapnya dengan semangat.

Setiap warga desa biasanya melakukan telitian secara sukarela. “Kami menyumbangkan apa yang kami mampu, baik dalam bentuk uang maupun kebutuhan sehari-hari seperti sembako,” tambahnya. “Setelah bekerja, kami sering berkumpul untuk makan bersama. Ini memperkuat rasa kebersamaan dan menambah kegembiraan.” 

Uniknya, bantuan ini bersifat timbal balik; orang yang menerima bantuan akan memberikan kontribusi serupa ketika pihak pemberi mengadakan hajatan di masa depan. “Kami saling membantu, dan itu membuat ikatan kami semakin kuat,” jelasnya. “Ketika seseorang membutuhkan, kami semua bergerak bersama.”

Telitian adalah salah satu dari enam budaya gotong royong yang masih terjaga di Brebes. Budaya ini dipengaruhi oleh adat Sunda dan Jawa, mencerminkan posisi geografis Brebes sebagai daerah perbatasan antara kedua provinsi tersebut. “Bahasa sehari-hari kami banyak dipengaruhi oleh budaya Sunda, tetapi dalam tradisi ritual, kami lebih mengikuti adat Jawa,” jelasnya dengan wajah bangga.

Dalam percakapan kami, ia juga menekankan peran penting komunitas lokal di Ketanggungan dalam menjaga kelestarian telitian. “Kami mengajarkan anak-anak untuk menghargai tradisi ini,” katanya. 

Rasa kebersamaan ini sangat terasa saat telitian berlangsung. Setiap rumah yang mengadakan hajatan akan dikerumuni oleh tetangga dan kerabat. “Suatu kali, kami membantu tetangga yang sedang membangun rumah. Anak-anak bermain di sekitar, sementara orang dewasa bekerja. Suasananya penuh canda tawa,” kenangnya.

Namun, tidak semua waktu berjalan mulus. Terkadang, ada juga tantangan yang harus dihadapi. “Kami harus memastikan semua orang merasa diikutsertakan. Jika ada yang merasa tidak nyaman, kami harus mencari cara agar semua orang merasa diterima,” ungkapnya. Hal ini mencerminkan pentingnya komunikasi dalam menjaga keharmonisan.

Keberadaan telitian juga memperkuat ikatan sosial di desa. “Setiap individu merasa memiliki tanggung jawab terhadap sesama,” tegasnya. 

“Ketika seseorang bahagia, kami semua ikut merasakannya. Rasa peduli ini membuat kami lebih dekat.” 

Tradisi ini membantu menciptakan rasa saling memiliki yang sangat kuat.

Namun, meski masih terjaga hingga kini, tradisi telitian menghadapi tantangan akibat modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat. “Generasi muda sekarang lebih terpengaruh oleh budaya luar,” keluhnya. “Kadang-kadang, mereka kurang memahami nilai-nilai gotong royong yang kami pegang erat.”

Untuk itu, diperlukan upaya edukasi dan promosi budaya agar tradisi telitian tetap relevan di masa depan. “Kami perlu mengajak anak muda untuk lebih mengenal dan memahami arti penting dari gotong royong dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya dengan penuh harapan. “Jika kita tidak mengajarkan mereka, bagaimana mereka akan menghargai warisan ini?”

Melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan dan diskusi, masyarakat berusaha untuk menarik perhatian generasi muda. “Kami mengadakan acara di mana anak-anak bisa belajar tentang tradisi ini, bahkan melalui permainan,” jelasnya. “Kami ingin mereka merasakan sendiri betapa menyenangkannya menjadi bagian dari telitian.”

Dengan demikian, tradisi telitian di Desa Ketanggungan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga simbol solidaritas sosial dan identitas budaya masyarakat Brebes. Melalui upaya bersama antara masyarakat lokal dan pemerintah daerah, tradisi ini dapat terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Brebes, menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang telah ada sejak lama.(*)

Oleh  Fawwaz Aulia Rahma