Kampung Vietnam di Batam: Cerita tentang Jejak yang Tertinggal

Di balik riuhnya geliat industri kota Batam, di sudut kota yang ramai, tersimpan sebuah kisah masa lalu yang tak terlalu banyak diketahui orang. Kampung itu, yang dikenal sebagai Kampung Vietnam, merupakan sebuah tempat yang pernah menjadi rumah sementara bagi ribuan pengungsi dari negeri seberang. Bukan rumah karena pilihan, melainkan karena keadaan yang memaksa mereka meninggalkan tanah kelahiran dan mencari tempat aman untuk bertahan hidup. 

Kampung ini bermula pada dekade 1970-an, saat Batam, yang dulunya merupakan pulau yang tenang, mulai berkembang menjadi kawasan industri yang menarik banyak perhatian. Gelombang kedatangan para pengungsi Vietnam ke Pulau Galang mulai terasa sekitar tahun 1979. Mereka datang dalam kondisi yang memprihatinkan, menumpangi kapal-kapal kayu kecil yang tampak rapuh, yang hanya dapat ditumpangi puluhan hingga seratus orang dalam sekali perjalanan. 

Kapal-kapal itu berlayar menembus Laut China Selatan, terombang-ambing di lautan luas, tanpa kepastian akan mendarat di mana. Sebagian terdampar di Malaysia, sebagian lagi di Filipina, dan tak sedikit yang akhirnya mencapai pantai-pantai Pulau Galang. Awalnya, masyarakat setempat menyambut mereka dengan tangan terbuka, mencoba membantu semampu mereka. Namun ketika jumlah pengungsi terus bertambah dan kebutuhan semakin besar, pemerintah pusat pun turun tangan. Atas keputusan Presiden Soeharto saat itu, Indonesia membuka ruang bagi mereka untuk menetap sementara—bukan sebagai pendatang tetap, melainkan sebagai tamu kemanusiaan yang tengah mencari tempat aman setelah kehilangan segalanya. 

Kemudian, Pemerintah Indonesia, dengan bantuan dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), membangun sebuah area khusus di Pulau Galang sebagai kamp pengungsian. Fasilitas seadanya dibangun: barak tempat tinggal, klinik, sekolah darurat, hingga tempat ibadah. Dalam keterbatasan, para pengungsi ini berusaha menjalani hidup seolah semuanya akan kembali normal suatu hari nanti. 

Meski status mereka tak pasti bagaimana, mereka tidak tinggal diam. Mereka membentuk komunitas, saling membantu, dan menjaga identitas budaya mereka. Bahasa Vietnam tetap terdengar di setiap sudut, sementara aroma masakan khas Vietnam memenuhi udara. Tradisi mereka tetap dijalankan, dan anak-anak tetap belajar, meski di tengah suasana ketidakpastian. Kampung ini menjadi semacam perhentian dalam perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih baik. 

Waktu terus berjalan, situasi di Vietnam pun mulai membaik dan kamp pengungsian perlahan ditutup pada awal tahun 1990-an. Sebagian besar pengungsi dipindahkan ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, atau Australia. Namun, tidak semua dari mereka pergi. Ada sebagian kecil yang memilih atau terpaksa tetap tinggal. Mereka inilah yang kemudian menetap di wilayah Batam dan dikenal sebagai warga keturunan Vietnam.

Kampung Vietnam yang dulunya penuh aktivitas kini berubah menjadi kawasan yang lebih sunyi, namun menyimpan banyak jejak sejarah. Bangunan-bangunan tua seperti rumah sakit kecil, gereja, vihara, hingga perahu kayu bekas pelarian masih berdiri—diam, namun bercerita. Beberapa di antaranya kini difungsikan sebagai objek wisata sejarah, dikunjungi oleh pelajar dan wisatawan yang ingin mengetahui sisi lain dari sejarah Indonesia dan dunia.

Bagi warga keturunan Vietnam yang masih tinggal di Batam, mereka tumbuh dalam budaya yang melekat erat pada tradisi leluhur, namun juga berbaur dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak dari mereka telah menikah dengan warga lokal, berbicara bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, dan ikut serta dalam kegiatan masyarakat. Namun, kenangan tentang masa lalu tetap hidup dalam cerita-cerita keluarga.

Kampung Vietnam bukan hanya sekadar tempat, melainkan juga sebuah ruang kenangan. Ia mencatat kisah tentang pelarian, harapan, kehilangan, dan ketahanan manusia dalam menghadapi tekanan hidup yang luar biasa. Ia menunjukkan bahwa dalam keterasingan, manusia tetap bisa menciptakan rumah—bukan karena dinding atau atap, tapi karena kebersamaan dan tekad untuk bertahan.

Kini, Kampung Vietnam menjadi simbol dari sejarah yang sering luput dari buku pelajaran.Kampung Vietnam merupakan saksi bahwa Indonesia pernah menjadi tempat berlindung bagi mereka yang terusir dari tanah kelahiran. Dan meski zaman telah berubah, kisah itu masih hidup—tersimpan di balik dinding bangunan tua, di antara pepohonan yang tumbuh diam-diam, dan dalam ingatan mereka yang pernah tinggal di sana.

Melangkah ke Kampung Vietnam hari ini, bukan hanya perjalanan ke masa lalu. Ia juga pengingat akan nilai kemanusiaan—tentang membuka pintu bagi yang membutuhkan, dan tentang bagaimana tempat asing bisa menjadi rumah, bila ada rasa saling menerima. (*)

Oleh Afifah Efendi