Oleh Adib Fathurrohim Arif Santoso
Pendakian pertama saya ke Gunung Gede menjadi salah satu pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Tanggal 3 Mei 2025 menjadi awal dari cerita yang awalnya terasa spontan, tapi ternyata penuh makna. Awalnya saya hanya menjalani hari-hari liburan setelah lulus sekolah, tanpa rencana yang jelas.
Selama kurang lebih tiga bulan menganggur, saya mulai merasa bosan dan bingung harus melakukan apa. Hari-hari terasa monoton, hanya diisi dengan kegiatan yang itu-itu saja. Sampai akhirnya, ada teman yang mengajak untuk naik gunung. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan itu.
Keputusan itu sebenarnya cukup nekat. Saya belum punya pengalaman mendaki sebelumnya, bahkan bisa dibilang ini benar-benar pertama kali. Tapi justru karena itu, saya merasa tertantang. Ada rasa penasaran yang besar untuk mencoba sesuatu yang baru.
Persiapan kami pun sebenarnya tidak terlalu matang. Saya hanya membawa perlengkapan seadanya, bahkan ransel yang saya bawa terasa cukup berat untuk ukuran pemula. Saat itu, saya belum benar-benar paham bagaimana cara packing yang efektif untuk pendakian.
Perjalanan dimulai dengan penuh semangat. Di awal pendakian, saya masih merasa kuat dan bersemangat. Kami bercanda sepanjang jalan, menikmati suasana hutan yang sejuk dan udara yang segar. Namun, semakin lama perjalanan, rasa lelah mulai terasa.
Medan yang dilalui tidak selalu mudah. Ada tanjakan yang cukup curam dan jalur yang licin. Beberapa kali saya harus berhenti untuk mengatur napas. Di momen seperti itu, saya mulai menyadari bahwa mendaki gunung bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Meskipun begitu, kebersamaan dengan teman-teman membuat perjalanan terasa lebih ringan. Kami saling menyemangati satu sama lain. Setiap istirahat menjadi momen untuk tertawa dan melepas penat, walaupun badan sudah terasa lelah.
Karena kurangnya persiapan dan pengalaman, kami tidak berhasil mencapai puncak. Kami hanya sampai di area Surken Timur. Awalnya saya merasa sedikit kecewa, tetapi setelah dipikirkan kembali, perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai puncak.
Di Surken Timur, saya tetap disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Hamparan padang yang luas dengan latar pegunungan dan kabut tipis menciptakan suasana yang sangat indah. Saat itu, rasa lelah seolah terbayar dengan apa yang saya lihat.
Saya juga belajar banyak dari pengalaman ini. Saya jadi tahu pentingnya persiapan sebelum mendaki, baik dari segi fisik maupun perlengkapan. Selain itu, saya juga belajar untuk tidak memaksakan diri ketika kondisi tidak memungkinkan.
Momen berfoto bersama teman-teman di sana menjadi kenangan yang sangat berharga. Kami berdiri dengan latar alam yang indah, membawa cerita masing-masing dari perjalanan yang kami lalui bersama. Foto itu bukan sekadar gambar, tapi bukti dari pengalaman pertama kami.
Pada akhirnya, pendakian ini bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang proses. Tentang keberanian mencoba hal baru, tentang kebersamaan, dan tentang pelajaran hidup yang saya dapatkan. Meskipun tidak sampai puncak, pengalaman ini tetap terasa lengkap.
Saya pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi hati yang penuh. Pengalaman pertama ini justru membuat saya ingin mencoba lagi di lain waktu, dengan persiapan yang lebih baik. Karena saya sadar, setiap perjalanan selalu punya cerita, dan ini adalah awal dari banyak cerita lainnya.(*)