Oleh Desquin Nadia Frisma
Ada beberapa kenangan masa kecil yang perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Namun, ada juga yang justru semakin jelas ketika diingat kembali, seolah baru saja terjadi kemarin. Bagi saya, salah satu kenangan itu adalah pengalaman study tour saat masih duduk di bangku sekolah dasar ke Lawang Sewu. Perjalanan itu bukan sekadar wisata biasa, melainkan pengalaman yang membekas karena menghadirkan berbagai rasa dalam satu waktu.
Pagi itu dimulai dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Halaman sekolah yang biasanya sepi justru dipenuhi oleh suara riuh anak-anak yang penuh semangat. Kami datang lebih awal dari biasanya, membawa tas berisi bekal dan harapan akan petualangan baru. Udara pagi terasa dingin, tetapi tidak mampu meredam antusiasme kami.
Saya masih ingat bagaimana saya berdiri bersama teman-teman, saling bercanda sambil menunggu bus datang. Wajah-wajah ceria terlihat di mana-mana. Bahkan guru-guru yang biasanya terlihat serius pun tampak lebih santai dan ramah. Semua orang seolah sepakat bahwa hari itu adalah hari untuk bersenang-senang. Ketika bus akhirnya tiba, kami langsung bergegas naik dengan penuh semangat. Tidak ada rasa lelah, tidak ada rasa kantuk, yang ada hanya kegembiraan.
Begitu bus mulai berjalan, suasana langsung berubah menjadi sangat hidup. Lagu-lagu dinyanyikan bersama, meskipun sering kali tidak selaras. Perjalanan menuju Lawang Sewu terasa seperti petualangan panjang yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan, kami tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Dari hal-hal sederhana hingga cerita-cerita lucu yang membuat kami tertawa tanpa henti.
Namun, di tengah semua itu, pikiran saya justru tidak benar-benar berada di sana. Ia berlari lebih jauh, mendahului perjalanan, menuju tujuan yang sejak tadi hanya saya bayangkan. Ada rasa penasaran yang tumbuh perlahan, seperti benih yang diam-diam disiram oleh imajinasi. Seperti apa sebenarnya tempat yang akan kami kunjungi?
Saya mulai membayangkannya dalam berbagai bentuk. Sebuah bangunan besar yang sunyi, dengan jendela-jendela tinggi yang seolah menatap balik ke arah siapa pun yang datang. Lorong-lorong panjang yang mungkin menyimpan gema langkah kaki dari masa lalu. Dan pintu-pintu yang tak terhitung jumlahnya, seakan masing-masing menyimpan rahasia yang berbeda.
Sesekali saya menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang terus berganti. Pepohonan berbaris seperti barisan penonton yang diam, sawah-sawah membentang bagai permadani hijau yang disulam oleh angin, dan rumah-rumah kecil sesekali muncul lalu menghilang, seakan hanya singgah sebentar dalam pandangan. Jalan yang kami lewati terasa seperti garis panjang yang menghubungkan satu cerita dengan cerita lain.
Setelah beberapa jam perjalanan, bus akhirnya berhenti. Kami pun turun dengan rasa tidak sabar. Di hadapan kami berdiri bangunan megah yang selama ini hanya kami lihat di buku atau cerita, yaitu Lawang Sewu. Bangunan itu tampak begitu besar dan kokoh, dengan arsitektur yang berbeda dari bangunan modern. Jendela-jendela tinggi berjajar rapi, sementara pintu-pintu yang banyak jumlahnya membuat tempat ini terasa unik. Namun, di balik keindahannya, ada aura misterius yang sulit dijelaskan.
Sebelum masuk, kami diberi arahan oleh guru. Kami diminta untuk tetap bersama rombongan dan menjaga sikap. Arahan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat suasana menjadi sedikit lebih serius.
Ketika saya melangkah masuk, saya langsung merasakan perubahan suasana. Udara di dalam terasa lebih sejuk dan sunyi. Suara langkah kaki kami menggema di lorong-lorong panjang, menciptakan kesan seolah bangunan itu “hidup” dan menyambut kami. Kami berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap detail bangunan.
Pemandu wisata mulai menjelaskan sejarah tempat tersebut. Ia bercerita tentang masa penjajahan Belanda dan bagaimana bangunan ini pernah menjadi pusat aktivitas penting.Awalnya, kami masih santai mendengarkan. Beberapa teman bahkan masih sempat bercanda kecil. Namun, semakin lama, cerita yang disampaikan mulai terasa lebih serius dan mendalam.
Puncaknya adalah ketika kami diajak menuju bagian basement. Seketika, suasana berubah drastis. Tawa yang sebelumnya terdengar kini menghilang, digantikan dengan langkah kaki yang lebih pelan dan hati-hati.Saat menuruni tangga menuju basement, saya mulai merasakan ketegangan. Cahaya semakin redup, udara semakin lembap, dan suasana menjadi sangat sunyi. Saya bisa merasakan jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ketika sampai di bawah, rasa takut itu benar-benar terasa. Lorong yang sempit dan gelap menciptakan kesan yang menekan. Dinding-dinding yang basah seolah menyimpan cerita yang tidak ingin diungkapkan. Saya melihat teman-teman mulai saling mendekat. Beberapa bahkan menggenggam tangan temannya. Saya sendiri berusaha tetap tenang, meskipun di dalam hati ada rasa takut yang cukup kuat.
Pemandu kemudian menjelaskan bahwa tempat itu memiliki sejarah kelam. Kata-katanya diucapkan dengan pelan, namun justru terasa lebih menegangkan. Imajinasi kami mulai bermain, membayangkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sana.Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang tertawa. Hanya ada keheningan yang terasa berat. Waktu seolah berjalan lebih lambat di tempat itu.
Ketika akhirnya kami keluar dari basement, saya langsung merasakan kelegaan yang luar biasa. Cahaya terasa lebih terang dari sebelumnya. Udara terasa lebih segar. Seolah-olah kami baru saja keluar dari tempat yang berbeda dunia.Setelah itu, suasana perlahan kembali normal.
Kami kembali bercanda, berfoto, dan menikmati sisa perjalanan. Namun, pengalaman di basement tetap membekas di dalam pikiran saya. Kami kemudian berkumpul di halaman untuk makan bersama. Sambil membuka bekal, kami saling berbagi cerita tentang apa yang kami rasakan tadi. Topik utama tentu saja pengalaman di basement yang menegangkan.
Sebelum pulang, kami membeli oleh-oleh sebagai kenang-kenangan. Saya memilih sebuah gantungan kunci sederhana. Meskipun kecil, benda itu memiliki makna yang besar bagi saya. Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Banyak teman yang tertidur karena lelah. Saya sendiri lebih banyak diam, mengingat kembali setiap momen yang telah kami lalui.Study tour ke Lawang Sewu bukan hanya perjalanan biasa. Itu adalah pengalaman yang penuh pelajaran, baik tentang sejarah maupun tentang perasaan manusia.
Kini, ketika saya mengingatnya kembali, saya tidak hanya mengingat Lawang Sewu sebagai bangunan tua. Saya mengingatnya sebagai pengalaman, sebagai perasaan,sebagai pengingat bahwa di balik setiap tempat, selalu ada cerita yang menunggu untuk dirasakan. Dan mungkin, dari seribu pintu yang ada di sana, ada satu pintu yang tidak pernah benar-benar tertutup, yaitu pintu kenangan. Dan saya tidak hanya mengingat tempatnya, tetapi saya mengingat suasananya, perasaannya, dan setiap detail kecil yang membuat pengalaman itu begitu berarti.(*)