Oleh Hanifa Nabila Sazkiya
Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ada satu momen yang paling saya tunggu setiap tahunnya. Acara ini diadakan setahun sekali dan terbuka untuk umum. Tak sedikit warga dari daerah lain yang datang dan ikut menonton. Tradisi sedekah laut di desa kelahiran saya, Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah. Bukan karena saya benar-benar paham maknanya saat itu; saya hanya senang dengan suasananya yang meriah.
Sudah sejak pagi ramai orang di kampung bersiap-siap; semangat yang pelan-pelan memenuhi udara. Jalanan yang biasanya sepi saat itu ramai diisi dengan hiasan warna-warni. Wajah yang berseri-seri terlihat lebih cerah dari biasanya. Saya dan teman-teman ikut sibuk karena sebuah tugas penting. Sebagai anak kecil yang masih lugu saat itu, menjadi bagian kecil dari kirab arak-arakan merupakan hal yang membuat kami antusias.
Seragam kebesaran yang saya pakai kala itu bahkan tidak terlalu rapi karena adanya peniti di bagian kanan dan kiri pinggang. Tapi saat itu, hal-hal seperti ini terasa tak begitu penting bagi saya. Yang terpenting adalah bisa ikut berjalan di barisan, membawa drum kecil yang talinya terasa berat di leher, nyaris membuat leher saya patah. Sambil berusaha mengikuti irama yang diberikan Pak Helmi, guru drum band kami.
Mayoret berjalan di depan, memimpin barisan. Di belakangnya barisan teman-teman yang membawa pianica dan marching bell, disusul 3 orang anak yang membawa drum dengan ukuran paling besar. Bukan tanpa alasan, Pak Helmi, kami memberikan drum besar itu kepada mereka. Ya, karena tubuh mereka yang gempal, maksud saya sehat dan kekar. Ini adalah pujian, ya, teman-teman.
Kami berbaris, walau tidak terlalu rapi karena anak-anak ini agak susah diatur. Suara terompet berbunyi, tanda acara sudah dimulai. Diikuti irama marching bell dan pianica yang merdu. Kami berjalan perlahan. Suara drum band mulai terdengar. Ketukan demi ketukan bergema sepanjang jalan. Semangat anak-anak kecil yang luar biasa menciptakan iramanya sendiri. Meskipun tidak selalu kompak, ada yang terlalu cepat atau terkadang ada yang tertinggal ketukannya. Tapi tak apa, karena dari kesalahan kecil itu, kami bisa melemparkan tawa-tawa kecil satu sama lain.
Di sepanjang jalan, para warga sudah berdiri menonton kirab. Laki-laki, perempuan, bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak kecil, semua orang merasa sangat antusias pada hari itu. Ada yang tersenyum dan melambaikan tangan. Tak lain tak bukan adalah para orang tua yang menyaksikan penampilan anaknya. Bahkan tak sedikit pula yang dengan lantang memanggil nama anaknya dengan kamera di tangannya, seakan-akan sudah siap mengabadikan momen tersebut. Bagi anak-anak yang masih lucu itu, rasanya seperti diajak menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Walaupun pada kenyataannya kami belum sempurna dalam memukul alat-alat drum band tersebut.
Di barisan paling depan, bangkai kepala kambing dan sesajennya disajikan dengan penuh rasa hormat. Orang-orang yang memikul sesajian tersebut berjalan dan membawanya dengan pelan dan tenang, seolah menjaga sesuatu paling penting nan berharga. Sementara kami, anak-anak berbaris di belakang mengiringi kirab tersebut dengan ritme kami sendiri. Menjadi bagian sederhana dari tradisi yang sudah ada bahkan jauh sebelum kami lahir.
Matahari menampakkan dirinya semakin tinggi. Panas mulai terasa, tetapi angin laut sesekali datang membawa kesejukan. Tangan mulai pegal, leher terasa amat sakit, kaki mulai berat karena langkah yang cukup jauh. Tapi kami tak berhenti; tujuan sudah ada di depan mata. Sesampainya di tepi laut, suasana pelan-pelan berubah. Ramainya masih ada, namun kali ini lebih khidmat. Kapal-kapal para nelayan telah menepi; orang-orang yang bertugas sudah siap.
Saat prosesi larung sesaji, saya berdiri. Alat drum yang saya bawa sudah tak lagi menggantung di leher. Kali ini lebih banyak diam, bukan karena benar-benar mengerti, hanya saja saya ikut terbawa suasana. Semua orang hening, sambil diam-diam memanjatkan doa kepada-Nya agar laut ini bisa membawa rezeki yang berkah dan orang-orang diberi keselamatan dalam mencari nafkah. Ombak bergerak dengan perlahan, seakan tahu bahwa ia kedatangan tamu. Angin berhembus tenang dan saya bisa merasakan bahwa momen tersebut penting bagi orang-orang di sekitar saya dan bagi laut yang kami hormati.
Setelah acara selesai, suasana kembali ramai. Anak-anak kembali seperti biasa, bercanda dan bermain. Di perjalanan pulang, kami tertawa dan saling mengejek tentang permainan drum yang berantakan tadi. Semua terasa ringan, seolah lelah langkah kami dan leher yang sakit itu tak pernah ada.
Sekarang, ketika saya mengingat itu semua, yang terbayang bukan hanya acaranya, tapi detail-detail kecil di dalamnya. Suara drum yang tidak selaras, langkah yang tidak kompak, dan tawa yang muncul tanpa alasan. Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa saja kini justru terasa paling berharga. Dan mungkin, tanpa saya sadari saat itu, di antara suara drum yang sederhana dan langkah kecil yang tak teratur, saya sedang membawa pulang sesuatu yang lebih lama bertahan, kenangan tentang kebersamaan, tentang menjadi bagian dari tradisi, dan tentang masa kecil yang diam-diam ingin terus saya ingat.(*)

