Bandung dan Satu Hari yang Panjang

Oleh Siti Azizah Az Zahra

Di sekolahku, waktu tidak hanya berjalan, tetapi juga meninggalkan jejak yang terasa. Kami masih berada dalam naungan Kurikulum 2013, di mana batas antara IPA dan IPS masih jelas tergambar. Aku memilih IPS, atau mungkin IPS yang memilihku. Di sanalah aku menemukan ritme yang pas, lingkungan yang tidak hanya mengajarkan teori, tapi juga menghadirkan rasa. Dari IPS 1, 2, hingga 3, kami seperti satu alur yang mengalir tanpa gesekan. Tidak ada konflik yang membekas, tidak ada jarak yang memisahkan. Hanya ada kebersamaan yang tumbuh perlahan, diam-diam, tapi kuat.

Kedekatan itu tidak datang secara tiba-tiba. Ia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang. Dari duduk bersama saat jam kosong, dari tawa yang muncul tanpa alasan jelas, dari obrolan sederhana yang entah kenapa selalu terasa penting. Kami tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menjadi dekat, tapi kedekatan itu terjadi begitu saja. Lalu, entah siapa yang memulai, kami memberi nama pada kebersamaan itu: “Konferensi IPS”. Sebuah nama yang terdengar resmi, seolah kami sedang membahas hal besar, padahal isinya sering kali hanya canda yang tidak ingin cepat berakhir.

Setelah kelulusan, suasana berubah. Sekolah yang dulu ramai kini terasa lebih sunyi. Tidak ada lagi suara guru yang memanggil; tidak ada lagi jadwal yang harus dikejar. Waktu terasa lebih longgar, seperti memberi ruang untuk merasakan hal-hal yang sebelumnya terlewat. Di tengah kelonggaran itu, tiba-tiba muncul satu rasa yang tidak bisa diabaikan: rindu. Rindu pada sebuah kota yang pernah menyimpan cerita, Bandung. Kota yang sederhana, tapi selalu berhasil meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan.

Kenangan itu kembali dengan jelas. Waktu kelas 11, aku pernah pergi ke Bandung bersama teman-teman dan orang tua mereka. Kami hanya lima orang: Arfan, Nabil, Muti, Ara, dan aku. Tidak ada rencana besar saat itu; tidak ada ekspektasi tinggi. Tapi justru dari kesederhanaan itu, tercipta momen yang hangat. Kami tertawa di jalan, berbagi cerita yang mungkin sekarang sudah mulai terlupakan, tapi rasanya masih tertinggal.

Rasa rindu itu akhirnya menemukan jalannya. Tanpa banyak pertimbangan, aku membuka percakapan dengan kalimat yang ringan, hampir seperti bercanda, “Eh, ke Bandung yuk.” Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa tekanan, tanpa harapan besar. Tapi kadang, hal sederhana justru menjadi awal dari sesuatu yang lebih berarti.

Respons datang cepat. Nabil langsung menjawab dengan semangat yang khas, “Yuk gasin aja! Ajak konferensi yuk biar rame.” Nada bicaranya seperti memberi energi baru. Ide yang awalnya terasa kecil tiba-tiba tumbuh. Kami pun sepakat untuk mengajak yang lain, berharap lebih banyak yang ikut, berharap perjalanan ini bisa menjadi cerita bersama, bukan hanya milik beberapa orang.

Pesan pun dikirim ke grup Konferensi IPS. Notifikasi berdatangan, satu per satu. Ada yang antusias, ada yang ragu, ada juga yang hanya membaca tanpa memberi jawaban pasti. Realitas mulai terlihat. Tidak semua bisa ikut. Kesibukan, rencana lain, dan berbagai alasan membuat jumlah kami menyusut. Dari puluhan, akhirnya hanya sembilan orang yang benar-benar siap berangkat.

Sembilan orang. Tidak banyak, tapi cukup. Kami tidak merasa kurang. Justru ada rasa eksklusif yang muncul, seolah perjalanan ini memang ditakdirkan untuk kami yang hadir. Kami mulai menyusun rencana, sederhana tapi jelas. Pagi di Bandung akan dimulai dengan sarapan, siang diisi dengan berkeliling, dan sore hingga malam kami serahkan pada suasana kota.

Pagi itu, Bandung menyambut kami dengan udara yang lebih sejuk dari biasanya. Kami memulai hari di Rumah Sejoli. Tempat itu terasa tenang, seperti memberi ruang untuk memulai hari tanpa tergesa. Kami duduk, memesan makanan, lalu berbincang. Tidak ada topik besar, tapi semua terasa cukup. Tawa kecil muncul di sela-sela percakapan, dan waktu berjalan tanpa terasa.

Setelah sarapan, kami menuju Paris van Java. Langkah kami tidak seragam. Ada yang berjalan cepat, ada yang santai. Aku mencari sesuatu untuk mamaku, sesuatu yang bisa kubawa pulang sebagai tanda bahwa aku sempat mengingatnya di perjalanan ini. Sementara yang lain sibuk dengan pilihan mereka sendiri, terutama kopi yang seolah tidak pernah gagal menarik perhatian.

Saat siang tiba, kami berhenti di Merindu Canteen and Coffee. Tempat itu terasa hangat, tidak hanya dari suasananya, tetapi juga dari makanan yang disajikan. Aku memilih tiramisu matcha, rice with basil ground meat, dan hot latte. Rasanya tidak berlebihan, tapi tepat. Matcha yang pahit, nasi yang gurih, dan kopi yang hangat menciptakan kombinasi yang sederhana tapi membekas.

Menjelang malam, kami tiba di Braga. Langit mulai gelap, tapi kota justru semakin hidup. Lampu-lampu menyala, orang-orang berjalan tanpa henti, dan suasana terasa penuh. Kami berhenti di sebuah photobooth, tertawa saat mencoba berbagai pose yang mungkin akan kami lihat lagi di masa depan. Sebelum pulang, kami membeli tiramisu, dessert yang sedang ramai, sebagai oleh-oleh kecil dari perjalanan ini. Dan saat akhirnya kami kembali ke Bekasi, ada satu hal yang kami bawa pulang selain barang: kenangan yang diam-diam akan tinggal lebih lama dari yang kami kira.(*)