UNNES GIAT 16 Masaran Dukung SDG 12 Melalui Inovasi Lilin Minyak Jelantah

MASARAN — Tim KKN UNNES GIAT 16 Desa Masaran yang terdiri atas Ainun Fahyan Ulinnuha, Najwa Fadza ‘Izza, Susy Zahra Annisa Faradilla, Rahmat Hidayat, Alfani Salsabilla Anwar, Vina Putri Nabila, Tober Dwi Putra Tampubolon, Aulia Ayu Safitri, Ulfatus Sa’adah, dan Muhammad Ihsan Arsyad, dibimbing oleh Rossi Galih Kesuma, S.Pd., M.Pd., melaksanakan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah bersama ibu-ibu rumah tangga Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, pada Kamis (20/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan KKN oleh Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata LPPM UNNES bersama mitra terkait ini merupakan bagian dari program kerja “Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah”. Kegiatan tersebut mengangkat pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus mendukung SDG 12, Responsible Consumption and Production, melalui pengenalan praktik pengelolaan limbah secara lebih bertanggung jawab.

Minyak jelantah merupakan salah satu limbah rumah tangga yang dihasilkan dari aktivitas memasak sehari-hari. Apabila dibuang secara sembarangan, minyak jelantah dapat menjadi salah satu sumber pencemaran lingkungan sehingga perlu dikelola dengan cara yang tepat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNNES GIAT 16 mengenalkan alternatif pemanfaatan minyak jelantah dengan mengolahnya menjadi lilin aromaterapi. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat bahwa limbah rumah tangga masih dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai guna.

Dokumentasi kegiatan demonstrasi pembuatan lilin minyak jelantah.

Kegiatan diawali dengan pengkondisian peserta sebelum mahasiswa memberikan penjelasan mengenai dampak pembuangan minyak jelantah secara sembarangan serta pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga. Peserta kemudian diperkenalkan dengan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan lilin aromaterapi. Bahan yang digunakan meliputi minyak jelantah, stearin, essence aromaterapi, dan sumbu. Sementara itu, peralatan yang digunakan antara lain panci, pengaduk, cetakan lilin, kompor, timbangan, dan penyangga sumbu.

Demonstrasi dilanjutkan dengan memperlihatkan setiap tahapan pembuatan lilin secara langsung. Minyak jelantah terlebih dahulu disaring untuk mengurangi kotoran, kemudian ditimbang dan dicampurkan dengan stearin sesuai takaran. Campuran tersebut dipanaskan sambil diaduk hingga stearin larut, kemudian ditambahkan essence aromaterapi untuk memberikan aroma pada lilin. Setelah sumbu dipasang pada cetakan, campuran dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan hingga mengeras menjadi lilin aromaterapi.

Penanggung jawab program kerja, Vina Putri Nabila, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan limbah rumah tangga. “Kami ingin mengajak ibu-ibu untuk memanfaatkan limbah minyak jelantah menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai guna, yaitu lilin aromaterapi. Melalui kegiatan demonstrasi ini, kami memberikan pengetahuan dan keterampilan sederhana mengenai cara mengolah minyak jelantah agar tidak langsung dibuang dan mencemari lingkungan. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini, ibu-ibu tidak hanya mengetahui cara membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah, tetapi juga dapat menerapkannya secara mandiri di rumah serta meningkatkan kreativitas dalam memanfaatkan limbah rumah tangga,” ujarnya.

Selama demonstrasi berlangsung, peserta diberikan kesempatan untuk mengamati setiap tahapan sekaligus berdiskusi mengenai proses pembuatan lilin. Pembahasan mencakup persiapan minyak jelantah, pencampuran bahan, penggunaan peralatan, pemasangan sumbu, hingga proses pencetakan lilin. Interaksi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami proses pembuatan secara lebih mendalam. Setelah demonstrasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan evaluasi singkat untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan.

Foto bersama peserta dan penyerahan luaran kegiatan berupa lilin aroma terapi dan brosur pembuatannya.

Sebagai luaran kegiatan, mahasiswa KKN UNNES GIAT 16 menghasilkan lilin aromaterapi dan brosur pembuatan lilin yang dapat digunakan sebagai referensi bagi masyarakat. Brosur tersebut memuat tahapan pembuatan sehingga peserta dapat mengingat kembali proses yang telah dipraktikkan selama kegiatan. Melalui kegiatan ini, Tim KKN UNNES GIAT 16 berupaya mengenalkan pemanfaatan kembali limbah minyak jelantah sekaligus mendorong kreativitas masyarakat dalam menghasilkan produk yang bermanfaat. Upaya tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap SDG 12, Responsible Consumption and Production, sejalan dengan semangat “Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa”.